Kopi! dan Kau Sahabat

Oleh: Kiyat JD

12096277_838040902975451_542295117582249301_n
SAHABAT? Siapa itu sahabat? Apakah kau? Dia? Oh iya, Iksan Scuter sedikit-banyak telah mengeksplor dirimu dalam lirik lagunya yang diberi judul “Rindu sahabat.” Itukah dirimu? Seperti yang dinyanyikan Iksan itu? Ya, ya! Dalam beberapa luang waktu kita pernah menjalani kebiasaan seperti yang diutarakan Iksan itu. Kita biasa menunggu datangnya pagi, bicara tentang kehidupan; tentang cinta; bahkan kita suka mencaci rusaknya dunia, sambil menghisap rokok dan menikmati secangkir kopi. Itukah dirimu? Atau kau sama seperti apa yang dilantunkan Ipang dalam lagunya yang ia beri judul “Sahabat kecil?” Ya, ya! Aku tahu, siapapun yang berusaha menjelaskan kehadiranmu dalam hidupku, semua tergantung kepadaku. Kuanggap sebagai apa dirimu. Sahabat atau hanya teman biasa? Yang pasti, kau jauh dari sifat “Pagar makan tanaman” seperti lagu dangdut itu. Bersyukurlah saat ini aku lupa dengan nama pelantun “tembang rakus” itu.

Telah banyak cerita aku dengar tentang dirimu. Ada yang bilang, mendapatkan sahabat itu, lebih sulit daripada mendapatkan pacar. Ada juga yang berpendapat dahsyat. Katanya sahabat itu, mampu menafkahkan jiwa raganya. Banyak. Pokoknya banyak. Banyak cerita dan perbandingan tentang dirimu. Sampai di sini, akupun belum menemukan siapa dirimu, sahabat! Bahkan, waktu aku masih duduk di bangku SMA dulu, aku pernah merasa telah menemukanmu. Tetapi kemudian itu keliru. Pun begitu aku berada di semester tiga dulu, aku merasa baru menemukan sahabat ketika jadi mahasiswa. Itupun masih keliru. Di jenjang semester lima, kembali aku terkejut dengan kehadiranmu dalam wujud rupa yang berbeda-beda. Aku semakin bingung. Di mana sahabat? Kau di mana? Kata orang, sahabat itu adalah orang yang sejalan dengan pemikiran kita. Tak apalah jika dikatakan seiya-sekata. Hehe … Kau tahu? Pernyataan orang-orang ini, ternyata semakin mempersulit langkahku menemukanmu.

Malam ini, kucoba merenung lagi, tentangmu, sahabat! Kau tahu? Samar-samar kau muncul di hadapanku, dengan berupa-rupa wajah. Tentunya dengan latar belakang kisah-kisah kita. Mungkin itu yang menyebabkan rupamu berbeda-beda. Perbandingan? Oh, tidak. Sungguh aku sanggup mengutuk diri, jika aku tega membanding-bandingkanmu berdasarkan pengorbanan, kisah, dan perjalanan kita.
Dalam bingung aku bertanya padamu lewat gulita malam. Lalu, aku harus menggunakan barometer apa untuk bisa menemukan wujud aslimu? Dalam bingung pula aku tertidur.

“Hey anak muda, bangun dan buatlah kopi. kita sambut pagi ini dengan sejuta optimis” Katamu.

Sontak aku kaget. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 05.03 Waktu setempat. Sahabat! Kau tahu? Kau hadir dalam mimpiku. Kau hadir menjawab dan meredakan kebingunganku. Ternyata, itulah wujud aslimu. Kau. Itulah kau. Kaulah sahabat. Kau yang selalu mengingatkanku, sudah ngopi or belum? Maka pagi ini, kupanaskan air, gelas semalam kucuci bersih, kuracik kopi ala sahabat dan kunikmati seperti saranmu.
Sahabat, maaf jika pengorbananmu bukan menjadi alat ukurku dalam menilai. Tentunya diluar dari konteks menghargai. Tetapi, menurutku, hanya ada tiga hal yang paling istimewah yang pernah kau berikan padaku. Lebih dari mereka. Yang pertama, kau tak pernah memujiku. Sebab kau kritikus yang adiluhung. Yang kedua, kau selalu mengepalkan tinju dan berseru-seru, ayo … ayo …! Dan yang ketiga, kau menyuguhkan secangkir kenikmatan. Di pagi hari.

Kost Mace
Dini hari

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Membawa Aksara Ke “Nges Anivu”

Oleh: Kiyat JD

Nges Anivu-berarti mata air yang keluar dari akar pohon aren. Sepanjang aliran mata air tersebut, di situlah pemukiman komunitas masyarakat Lauje berbaris rapat, damai dan bersahaja. Oleh pemerintah, mengidentifikasi mereka sebagai “Komunitas Adat Terpencil (KAT)”. Oleh Organisasi Masyarakat Sipil (NGO), menyebutnya “Masyarakat Adat”. Suku Lauje berbeda dengan suku-suku lain, kebiasaan mereka hidup di dataran tinggi dengan cara mempertahankan hidup yang berbeda pula, menyebabkan akses pendidikan terasa sulit untuk sampai kepada mereka.

Februari 2012- Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sulawesi Tengah, mencoba menggagas satu bentuk pembelajaran keaksaraan yang berbasiskan Sumber Daya Alam, tradisi dan budaya di komunitas masyarakat Lauje, sebagai bentuk pendidikan alternatif. Hal ini disebabkan karena, diperkirakan lebih dari 1000 orang tua dan anak-anak suku lauje yang mendiami kecamatan Dondo, belum bisa membaca dan menulis dalam nuansa pendidikan modern. Mereka hidup serba terbatas dan akses yang sangat memprihatinkan terhadap dunia pendidikan.

Idea ini kemudian mendapat sambutan hangat dari masyarakat Lauje. Daibuatlah musyawarah, antara Jatam Sulawesi Tengah dengan Tokoh adat Lauje, beserta masyarakat, untuk mendapatkan keseia-sekataan. Dari hasil musyawarah tersebut didapatkan kesepakatan, untuk mendirikan sekolah alternatif yang kemudian dinamakan Balai Belajar Lauje (BBL). Awalnya, balai belajar ini baru memiliki 22 siswa. Namun, sesuai dengan berjalannya waktu, minat belajar masyarakat Lauje semakin meningkat. Sampai pada tahun 2013, jumlah siswa meningkat menjadi 83 orang, terdiri dari anak-anak dan orang tua.

Balai Belajar Lauje, mengajarkan banyak hal secara informal, ada pelajaran pola hidup sehat, belajar membuat anyaman yang baik dan menarik, belajar menjaga kelestarian lingkungan hidup, dengan pola belajar sambil bermain, selain itu, BBL tidak luput dari pembelajaran keaksaraan. Pelajaran menulis, menghitung dan berbicara yang baik dan benar, menurut mereka adalah pelajaran yang mutlak mereka terima. Kesadaran dan minat belajar masyarakat Lauje yang semakin hari semakin bertambah inilah, yang kemudian membangkitkan semangat antara kedua belah pihak yakni Jatam Sulawesi Tengah dan masyarakat Lauje untuk terus berusaha mendapatkan pola pembelajaran yang sesuai dengan karakter dan kondisi lingkungan mereka. Hingga di tahun 2014, Jatam Sulawesi Tengah, mencoba menginisiasi satu kegiatan “pelatihan relawan guru balai belajar.” Kegiatan ini dilaksanakan selama satu minggu di kota palu. Melalui kegiatan ini, selain melahirkan tenaga pengajar sebanyak enam orang, juga melahirkan satu rumusan baru, dalam bentuk Kurikulum Balai Belajar Lauje (KBBL)-Baca Kurikulum BBL.

Seiring berjalannya waktu, tentunya secara kuantitas, satu gedung balai belajar saja belum cukup untuk mengakomodir semangat mereka dalam belajar. Selain komunitas ini terpencar ditiga tempat yang agak berjauhan yakni: di dataran tinggi yang biasa mereka sebut “Nges Anivu”; di dataran rendah “Kinapasan”; ada juga yang bermukim di kuala Lais atau “Sibalaong”. Maka sesuai kesepakatan bersama, secara swadaya, dibangunlah gedung sederhana didua tempat berikutnya. Hingga di tahun 2015, tercatat ada lebih dari 100 siswa yang belajar di tiga tempat balai belajar tersebut.

Kehadiran BBL di tengah-tengah masyarakat Lauje, kini menjadi central pendidikan alternatif di komunitas ini. “Kami sangat bersyukur dengan kehadiran BBL ini. BBL memberikan kami peluang untuk belajar menulis, menghitung dan banyak pelajaran lain, yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan kami. Selain itu, yang membuat kami nyaman belajar, karena gurunya juga adalah orang Lauje. Jadi kami tidak malu belajar. ” kata salah seorang siswa. “Selain itu juga, jadwal belajarnya tidak mengganggu pekerjaan kami sehari-hari. Kami masih bisa bekerja di lahan, masih bisa berburu, dan masih bisa menjalankan aktivitas lain.” Tambah pak Gau, salah satu relawan guru di BBL.

Mereka berharap, dengan hadirnya Balai Belajar di tengah-tengah mereka, kelak, generasi mereka tidak lagi gagap aksara maupun angka. Tidak mudah lagi mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari kalangan masyarakat luar, dan bisa hidup lebih mandiri lagi. Saat ini, kelangsungan proses belajar mengajar di BBL terus mengalami perbaikan demi perbaikan. BBL pun terus membuka diri pada siapa saja yang ingin menjadi donator buku. Semakin banyak bahan baca dan bahan tulis, masyarakat Lauje akan semakin keluar dari masalahnya.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sebuah Simbol Reinkarnasi

Oleh: Kiyat JD

***

Dia bukan Cut Nyak Dien, juga bukan Srikandi, apalagi Kartini. Lalu, siapa dia sebenarnya? Apa pangkatnya? Mengapa setiap tanggal 21 April, berbondong-bondong kaum ibu,
dsc_0427.jpgmulai dari Desa A sampai Z, mendatangi makam yang bertuliskan, “Di sini bersemayam putri kebanggaan kita: DELISA itu?

Dua tahun terakhir, desa itu mendapat “cap merah” dari kecamatan, sebagai desa dengan tingkat kriminalitas tertinggi—kasus KDRT—khususnya kekerasan terhadap perempuan. Ini disebabkan rendahnya tingkat pendidikan dan teguhnya kekeliruan dalam memahami hukum adat, yang berimplikasi pada rendahnya derajat perempuan di mata umum dan lingkaran keluarga.

Semasa hidupnya, Delisa, Putri kebanggaan desa itu, adalah seorang yang sederhana. Terbuka dalam pergaulanya. Tapi sangat mengenal batas-batas ketika bergaul. Banyak pemuda mengagumi keelokan parasnya. Tapi sayang, gunjingan di warung-warung kopi selalu membuat resah hati kedua orangtuanya. Delisa selalu menjadi bahan cerita yang hangat di kalangan anak-anak muda.

 “Tidak ada aib pada dirinya. Cantik parasnya pun tidak bercela. Hanya saja, cerita tentang mimpi-mimpi anehnya membuatku merinding,” kata seorang pemuda di warung kopi Setia Kawan milik bujang lapuk.

“Iya, dia juga suka menceritakan mimpi-mimpi anehnya padaku,” sahut  yang lainnya.

“Dengar, Denisa ingin memposisikan dirinya sebagai pejuang hak perempuan. Lagipula, dia lupa kalau mimpi itu hanya sekedar bunga penghias tidur,” sambung bujang lapuk dengan nada sentimen.

“Entahlah, yang pasti, jika aku amati dari mimik wajahnya ketika bercerita tentang mimpi aneh itu, aku yakin bahwa dia menganggap mimpi itu adalah suatu petunjuk baginya,” kkata pemuda yang pertama angkat bicara.

“Terus, yang membuatmu merinding?” tanya bujang lapuk dengan nada menggali-gali.

“Kata Delisa, mimpi itu adalah sebuah petunjuk baginya. Bahwa dia dipilih untuk melanjutkan perjuangan Ibu Kartini dalam mengangkat derajat perempuan di negeri ini. Ibu Kartini yang selalu mengunjunginya di dalam mimpi.” Gelak tawa pecah di warung itu.

“Apa benar yang kau katakan itu?” tanya bujang lapuk demi meyakinkan pendengar lain.

“Ya, itu benar! Dia tidak berbohong sepata-katapun.” Semuanya terperanjat mendengar jawaban dari luar warung. Delisa melangkah anggun lalu ikut duduk bersama mereka. “bahkan siang tadi, mimpi itu datang lagi,” lanjut Delisa.

“Delisa, jangan kau takut-takuti kami dengan ceritamu yang tak masuk akal itu!” kata seorang pemuda dengan nada menuduh.

“Baiklah, jika kalian tidak berkenan untuk percaya, aku tidak berkeberatan sedikitpun. Asal kalian tahu, siapa saja yang berani merendahkan derajat perempuan di desa ini, dalam bentuk tindakan apapun, maka dia akan berhadapan denganku. Permisi!” Delisa pergi menjinjing plastik berisi gula dan kopi yang disodorkan bujang lapuk dengan tangan gemetar. Seisi warung menggeleng-geleng.

Tiga tahun berlalu. Delisa menikah dengan anak saudagar kaya-raya, atas desakan ayahnya yang gila harta. Selama tiga tahun pernikahannya dengan anak saudagar makmur itu, Delisa tak lagi dikunjungi Ibu Kartini dalam mimpinya. Mimpi yang sebenarnya telah memberinya kekuatan dalam melewati masa-masa pingitan.  kecuali kalau sang ayah menyuruhnya membeli kuekuean di warung, barulah dia bisa keluar rumah. Bahkan teman-temannya, hanya bisa bertamu sampai jam sembilan malam di rumahnya.

Beruntunglah Delisa seorang yang dikenal cerdas di sekolah dulu. Kalau tidak, mungkin dia akan selalu kesepian, karena semenjak dia lulus SMA, telah masuk pada tahap pingitan, yang sebenarnya hanya pancingan agar ada yang cepat melamarnya. Dan, jiwanya yang selalu haus akan  ilmu itu, merupakan hal tersulit jika dijebak dalam situasi pingitan. Strategi ayahnya itu, berhasil.

Siang yang sendu. Ibu kartini sedang duduk di beranda rumah Delisa dengan wajah sendu pula. Tenang dalam sedih.  Delisa menemuinya. Lalu Ibu Kartini menyodorkan selembar kertas bertulisakan: 1K 3D. Sambil mengucapkan sesuatu. Lalu pergi begitu saja.

Delisa tersentak kaget, saat anaknya melompat ke atas ranjang dan menindih ujung kakinya. Keringat membasahi bajunya. Tak terkira kalimat-kalimat asma diucapkannya. Diingatnya kembali tulisan yang diberikan Ibu Kartini kepadanya. Dan, langsung ia tuliskan pada sebuah kertas. Mimpi yang lebih singkat dari biasanya itu, telah meninggalkan simbol. Entah itu simbol apa. Tapi, ingatan Delisa menangkap kata-kata terkahir Ibu Kartini sebelum ia terbangun. Itu hanya sebuah nama, dan kau harus mencarinya! Dan, naluri Delisa membenarkan hal itu.

Esoknya, Delisa berpamitan pada suaminya pergi ke desa tetangga, dengan maksud mencari orang yang berinisal D. Tentu saja, tak diberitahukannya maksud itu. Delisa selalu mengikuti kata hatinya. Dia menjawab sendiri simbol itu seperti ini: 1K adalah Kartini itu sendiri, dan 3D adalah Delisa atau dia sendiri. Dan, masih ada dua inisial D berikutnya. Itu artinya, Delisa harus memantau perkembangan setiap perempauan yang berinisial D.

Delisa pergi ke desa tetangga, karena di desanya hanya ada dua perempuan berinisial D, selain dia. Yang satunya Deminem sudah almarhum, dan yang satu lagi, sudah pasti bukan dia yang di maksud Ibu Kartini. Sebab Durusima adalah seorang nenek jompo.

Di desa tetangga itu, Delisa tidak menemukan orang yang dimaksud. Bukan karena tidak di tempat, tapi karena tidak satupun perempuan berinisial D. Maka, Delisa pulang bersama rasa kecewa. Sebelum sampai pada barisan rumah terakhir, tiba-tiba Delisa dilambung beberapa ibu-ibu, yang berjalan terburu-buru. Lewat disampingnya, dengan raut wajah riang gembira. Merasa penasaran, Delisa bertanya.  “Ada apa, Bu? Kenapa terburu-buru?”

“Ada tetangga yang mau melahirkan, Bu, ” jawab salah seorang.

Delisa menghentikan langkahnya sambil tersenyum. Harapan masih ada! serunya dalam hati. Dia mengikuti kedua ibu tadi masuk ke rumah yang dimaksud. Belum sempat dia masuk, terdengarlah suara tangis seorang bayi dari dalam.

Delisa tersenyum gemas. Dia masuk dan disambut dengan hangat seisi rumah. Sambil duduk dan menatap bayi perempuan itu, Delisa bertanya pada ibu pemilik bayi.

“Ibu, kalau boleh aku tahu, apakah ibu sudah menyediakan nama untuk bayi ini?” Ibu tersenyum ramah.

“Belum. Aku belum punya nama untuknya. Kalau boleh tahu, nama ibu siapa? Dan, dari mana?”

“Oh, ya, kenalkan namaku Delisa. Aku dari desa sebelah. Aku putri dari pasangan Pak Rostam dan Ibu Rosmini.”

“Oh, ibu anak Pak Rostam yang menikah dengan Sahrul anak saudagar itu, ya?” sanggah ibu bidan yang sedang mengemasi peralatan bersalinya. Delisa tersenyum pahit.

“Iya. Benar, Bu. Itu aku!” Seisi rumah tersenyum pahit.

Ternyata, desas-desus tentang dirinya yang suka bermimpi aneh itu, sudah menyebar ke dua desa terpencil itu. Jangan-jangan satu kecamatan telah tahu? Tanyanya dalam hati. Dia tahu, bahwa orang-orang tidak menyukai cara berpikirnya selama ini.

Tapi, suatu keajaiban yang mendebarkan terjadi saat itu juga. Tiba-tiba ibu pemilik bayi itu angkat bicara.

“Terimakasih atas kunjungan Ibu Delisa. Ini adalah kunjungan yang paling berharga bagiku dan bayi cantik ini. Kiranya, kalau ibu tidak keberatan, bolehkah bayiku ini kuberi nama Denisa? Biar hari yang bersejarah ini selalu aku ingat-ingat.”

Bergetar tubuh Delisa mendengar permintaan yang serta-merta membuka tabir mimpinya itu. Demikianlah pertemuan antara Delisa dengan Denisa. “D” kedua telah ditemukan. Delisa semakin yakin dengan kata hatinya.

***

Dan hari ini, tepat tanggal 21 April, seorang bocah perempuan merengek-rengek dituntun ibunya pergi berziara ke makam itu.

“Ibu, bukankah tahun kemarin kita sudah berziarah ke makam Delisa?” Protes bocah itu.

“Anakku, kita akan selalu berziarah ke makam Delisa, jika tanggal 21 April tiba.” Lemah-lembut ibunya berucap. Rengek bocah itu semakin agresif.

“Memangnya untuk apa, Bu?”

Ibunya tersenyum manis, lalu berkata, “Untuk menghormati jasa Delisa, anakku. Dia-lah Kartini kita di desa ini.” Bocah itu semakin merengek.

Pengunjung pun semakin banyak. Ada yang menangis, ada yang mengusap nisan, menyiramkan air, menabur beragam kembang, dan mempersembahkan beberapa karangan bunga yang diikat seadanya. 99,9% kaum Hawa. Sisahnya, Pak Tua penjaga kunci Tempat Pemakaman Umum.

Dengan bantuan bangku empat kaki, di bawah pohon johar, Denisa memfokuskan pandangannya pada bocah rewel itu. Pemandangan ini tak asing lagi baginya. Dia selalu datang paling awal dan pulang paling akhir. Bahkan, hampir seminggu sekali dia mengunjungi makam Delisa. Betapa Denisa mengagumi sosok Delisa.

Dulu, ketika usianya sama dengan bocah yang sedang merengek itu, ibunya selalu berkisah tentang usaha-usaha Delisa dalam mengangkat derajat kaum perempuan. Denisa tersenyum ketika kisah itu kembali diingatnya. Sepenggal kisah yang menjadi alasan kuat bagi ibunya jika ditanyai: mengapa dia dinamakan Denisa? Misteri.

Semua tahu, bahwa hari itu adalah hari Kartini. Dan, menurut Denisa, tanggal 21 April, adalah simbol autentik semangat kaum perempuan dalam merebut kemerdekaanya. Dengan artian, tetap mengenal batasan, tentunya. Dan, Delisa wafat di tanggal 21 April, dalam posisi memeluk foto Ibu Kartini. Rupanya, itulah sebabnya mengapa setiap tanggal 21 April berbondong-bondong kaum ibu berziarah ke makam Delisa.

Sebuah album kecil dan pena terletak di pangkuan. Denisa mencatat semua yang disaksikannya setiap tanggal 21 April di bawah pohon johar itu. Sementara, bocah perempuan itu, duduk cemberut di samping makam Delisa. Ibu bocah itu berusaha mengisahkan seadanya tentang perjuangan Delisa, dalam mengangkat derajat kaum perempuan semasa-hidupnya. Harap-harap bocah itu faham dan menjadikan kisah Delisa sebagai teladan dalam kehidupannya.

Matahari tepat di atas kepala. Menyusup di sela-sela daun johar. Denisa kembali tersenyum. Teringat cerita ibunya tentang kunjungan-kunjungan Delisa. Waktu itu, Denisa masih merah dan lucu. Semua mengenai Delisa; pandangannya tentang perempuan; mimpinya bertemu dengan Ibu Kartini; dan tujuannya berkunjung ke desa ibunya; telah dicatat semua oleh Denisa. Kalau aku tak salah, bunyinya seperti ini “Kau tahu nak, mimpi ajaib itu, telah merubah Delisa dari gadis pingitan dan istri anak Saudagar tersohor, menjadi seorang yang selalu blusukan dari rumah ke rumah. Satu kecamatan. Hanya untuk satu tujuan. Yakni, menyebar luaskan pemahaman yang dia suka menyebutnya, Teori kesetaraan gender.”

Tiga tahun aksi blusukan itu berlangsung. Tentu secara respon, ada yang pro dan ada yang kontra. Hingga akhirnya, yang kontra lebih agresif menentang pemahaman itu. Dan, Delisa mendapat perlakuan keras dari keluarganya, hingga Delisa menjadi semacam tahanan rumah oleh orangtuanya sejak dia diceraikan suaminya—karena tidak tahan dengan sikap Delisa. Sampai Delisa meninggal, dia tetap menjadi tahanan rumah. Menyedihkan.

Hari pun semakin panas. Para peziarah, satu per satu beranjak dari makam Delisa. Sedang, ibu bersama bocah rewel itu, sedang asik berteduh di bawah pohon johar dekat makam Delisa. Keduanya sengaja membawa bekal dan tikar seadanya. Mungkin telah merencanakan, sehari bersama makam Delisa. Semacam piknik yang unik.

Denisa menutup bukunya. Tapi, hatinya selalu memaksakan tangan untuk menuliskan segala kejadian yang ia alami—tiga malam terakhir. Tapi, dia takut kesalahan yang sama dalam mengambil langkah yang keliru—terulang lagi. Hanya dia, dan tuhan yang tahu mimpi itu. Tak pernah dia memberitahukan kepada siapapun. Termasuk ibunya sendiri. Sebab, akan mengundang kontra lebih agresif dibanding dengan yang dirasakan oleh Delisa

Denisa tidak berpikir seperti Delisa. Cukuplah Ibu Kartini dan Delisa yang mengalami tahanan rumah. Denisa tidak. Dia menyusun langkah  yang lebih cerdas. Lebih mempertimbangkan relevansi misi dengan keadaan kekinian. Ini zaman modern. Dan ini zamanku. Biar aku yang menentukan langkah untuk melanjutkan misi kalian. Beristirahatlah kalian dengan tenang! dengungnya dalam hati.

Denisa membaca kembali kertas yang diberikan Delisa pada ibunya dulu. 1K 3D. Denisa mengeluarkan nafas berat saat menyadari, bahwa setelah dia masih ada lagi satu D yang dimaksud oleh Ibu Kartini. Tapi, di mana lagi dia harus mencari?  Denisa melangkah meninggalkan bangku itu menuju ibu yang sedang sibuk menenangkan bocah rewel itu, agar bersabar sedikit lagi.

“Ibu, ayo kita pulang! Hari telah beranjak sore,” ajak Denisa. Ibu itu tersenyum dan berdiri menatap gadis yang belum dikenalnya. Sementara, bocah rewel itu langsung berlari menuju gerbang.

“Ibu, siapa nama anak ibu? Nakal sekali tingkahnya.”

“Ah, namanya Denita, Dek. Dia memang nakal, bawel dan suka merengek.”

Malamnya, Denisa bermimpi melihat Ibu Kartini dan Delisa sedang menuju rumahnya. Di tengah mereka berdua, tersenyum manis seorang anak yang tadi dilihatnya. Denisa terbangun. Keringat membasahi bajunya. Sepintas, dia teringat nama bocah itu: D-E-N-I-T-A. Dia tersenyum. Simbol yang menjadi tabir, telah terpecahkan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cinta Terbit Besama Fajar

 Oleh: Kiyat JD

th

… Hanya orang-orang yang melakukan perjalanan malam

yang akan menjemput fajar …

Dirga, pemuda kampung nan tampan itu, tak begitu kenal siapa yang telah mematrikan kalimat yang senang bersarang di otaknya itu. Yang pasti, dia pernah membacanya. Entah di kertas, entah di atas batu cadas, entah di dalam air. Ah, entahlah!

Semenjak mengenal kalimat itu, Dirga berubah menjadi seorang pemenung; suka memandang bulan; memperhatikan gemintang; dan menegur meteor.

Alam memang mempunyai kesibukannya sendiri, subhanallah! gumamnya dalam hati, sesaat melihat meteor yang melintas cepat di langit yang terang di malam itu.

Tak sadar, handphone-nya menampilkan satu panggilan tak terjawab. Dibukanya, ditutupnya lagi, dibuka lagi, ah, dia merasa ragu. Tapi, rasa penasaran itu seketika muncul. Dibuka lagi, aih … aih …, ternyata, Tari. Gadis cantik itu, selalu membuatnya kesal. Huuselalu saja …, jadilah kau pengganggu setiaku. Lalu,bersenang-senanglah kau menggangguku, gerutunya menyumpahi.

Handphone dimatikan, dan ia melanjutkan pesiarnya ke bintang-bintang. Ia tak tahu sama sekali bahwa di sana, di balik tembok segi empat berdiameter tiga kali dua, dengan pintu terkunci rapat, Tari telah membawanya terbang bersama khayal.

Sudah lama Tari mendambakanya, malah sering membayangkan duduk berdua di atas dahan ketapang yang menjulur ke laut, berkasih-kasih, saling menggenggam jemari, bersama menyaksikan sinar perak sang surya yang menjilati permukaan air laut tenang nun sendu. Lalu, tenggelam perlahan di dalammnya. Duh … . Hanya itu kata yang mampu keluar dari balik bibir merah mudanya ketika sang khayal berhasil menyeretnya ke pantai bersama Dirga sang dambaan hati itu. Baginya, Dirga adalah pemuda yang gagah nan tegar. Dan, pendapatnya itu diamini oleh ayahnya yang sering memuji-muji sifat Dirga ketika bicara dengan siapa saja. Lagipula, Dirga seorang muballiq di kampung itu. Pantas dijadikan imam. Apalagi kalau mendengar suaranya saat azan, serasa hanyutlah hatinya bersama suara itu ke samudra yang laus. Namun sayang, Dirga pemuda yang dingin. Tak mengenal basa-basi. Sedang, Tari adalah seorang perempuan baik-baik. Imam pula bapaknya. Betapa besar resiko perasaan yang disimpannya itu.

Hampir setiap hari, ia bertemu Dirga di dalam masjid. Ia sendiri rajin ke masjid karena Dirga. Pernah di suatu hari, selesai sholat ashar, ia berusaha memperlambat langkah ketika diketahuinya Dirga berada di belakangnya. Ia memberanikan diri menyapa.

Kak Dirga … bolehkah saya bertanya?

silakan

Mengapa akhir-akhir ini, kak Dirga menjadi begitu pendiam?

Ah.. tak ada apa-apa.

Sementara Dirga melangkah cepat, dan Tari tertinggal dua langkah di belakang. Hanya sampai disitulah percakapan itu. Selebihnya, saling membelakangi karena berbeda arah pulang menuju rumah.

Dirga mengenal sifat Tari, yang suka mengganggu tanpa alasan yang jelas itu. Paling ujung-ujungnya menanyai siapa pacarku? pikirnya diam-diam, sambil mempercepat langkah.

Sebab, sedari dulu, waktu mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA, Tari suka menanyakan hal itu. Sebenarnya, pertanyaan itulah yang sangat mengganggu. Maka, Tari di cap-nya sebagai pengganggu. Tapi, bagi seorang Tari, dia bukan hendak mengganggu. Ia hanya hendak mengespresikan perasaan sukanya kepada Dirga. Bukan bermaksud mencoba meruntuhkan iman pemuda itu. Sepanjang jalan menuju rumah, tak henti-henti Tari menggelengkan kepalanya, karena rasa malu bercampur tanggung, dan marah karena menurutnya, Dirga telah menilai dirinya sebagai orang yang tak mengenal arti harga diri. Terlebih dirinya seorang perempuan.

Ya Allahsalahkah perasaan yang entah dari mana dan kapan datangnya ini, tumbuh indah di dalam hati hambamu ini? Sementara perasaan ini, terus saja tumbuh subur ketika mendengar suara azannya, melihatnya damai dalam wudhu, khusyuk dalam doa. Jika salah, maka tulikan telinga hamba, butakan mata hamba, lumpuhkan kaki hamba, dan renggutlah perasaan hamba darinya. Atau, ambillah nyawa hamba serta-merta. Agar, hambamu ini tak lagi menyaksikan setiap keindahan yang engkau titip pada sifatnya. Sesal tari dalam-dalam. Murung dan layu gadis manis itu saat memasuki rumahnya. Menghambur ke dalam kamar, menghujamkan tubuhnya ke atas ranjang dan mengelu pada bantal. Betapa ia menaruh hati pada pemuda tampan nan alim itu.

Pernah juga ia bertemu Dirga di pantai, dekat rumah mereka. Ternyata kegemaran dirga adalah memancing. Siang itu, tentunya, sebagai perempuan baik-baik, ia merasa tak pantas untuk berdua-duaan di pantai. Apalagi dia mengenal sifat Dirga yang begitu dingin terhadap perempuan, akan ditaruh di mana mukanya jika Dirga hanya mengabaikannya dan berlalu pergi begitu saja?  Terpaksalah ia menahan diri dan balik kerumah. Biar begitu, ia tetap memaafkan Dirga. Sebab baginya sifat Dirga bukanlah sifat yang tidak terpuji. Malah sifat itulah yang menguatkan keyakinannya terhadap Dirga. Memupuk rasa cintanya kepada Dirga. Jarang betul ada seorang pemuda, setampan Dirga, di jaman yang begini edan masih teguh menjaga iman, memiliki budi yang terpuji pula. Gilalah Tari dibuatnya.

Setelah pertemuan di pantai itu, tak pernah lagi Tari mencoba memperhatikan Dirga, apalagi untuk mendekati, mencoba untuk berkomunikasi. Tapi dasar hati wanita, hati yang senantiasa diciptakan berbarengan dengan kelembutan cinta; hati yang peka ketika menyentuh keindahan cinta; hati yang selalu meminta untuk dimanjakan ketika mengenal cinta, tentulah bertolak seribu derajat dengan hati seorang pria. Pabila ditanya mengepa demikian, pastilah jawabannya karena pria tak ingin dikatakan manja. Maka jiwa raga harus dibuatnya keras.

Dan malam ini, adalah malam yang paling menggelisahkan bagi Tari, semakin kecil matanya dipejamkan, semakin jelas saja senyum Dirga yang menawan itu dilihatnya. Sungguh, tak tahan rasanya, tari pun menimbang-nimbang, mencari alasan tepat agar bisa berbicara lebih lama degan Dirga via SMS. Alasan demi alasan, pun tak kunjung hinggap, sedang malam berangsur larut. Membuang-buang waktu. Setengah sadar Tari memencet tombol pencari kontak, mencari nama Dirga di sana dan ia dapat, ingin rasanya membuat pesan singkat, melaporkan segala yang ia rasakan malam ini, tapi segera ia sadari, ini bukan lagi perintah hati, ini perintah setan. Niatnya terurung. Tapi jari terus memaksa, hingga ia tak sadar sedari tadi ibu jarinya telah menekan tombol call. Nauzubillah! Matilah aku.

Dirga yang sedari tadi hanya terhanyut pada penerawangannya kepada sang langit. Sama sekali tidak mengindakhan panggilan tak terjawab yang masuk di Handphone-nya. Ia tak mengetahui apa yang sedang Tari rasakan malam ini, dan ia tak ingin tahu. Menurutnya,gunung yang hijau di pagi hari, kecipuk air sungai yang kehijauan, bulan yang terang di malam hari, gemintang yang elok menghias langit adalah instrumen alam semesta, hasil karya sang maestro maha-teliti. Di sanalah sang-maestro meletakkan jejak-jejak keindahan yang harus ia telusuri. Tapi ia tak sadar bahwa tuhan juga menitipkan keindahan dalam hati perempuan. Itu ia tak sadar. Ia hanya sibuk memperhatikan gerak-gerik alam, tapi ia tak pernah memperhatikan gerak-gerik mimik Tari.

Dan Tari, tentunya sebagai orang yang paling memahami masalah ini, sebab ini masalahnya dan bukan masalah Dirga, tentu tak ada jalan lain selain menyerah pasrah tak berdaya kepada kenyataan pahit ini. Tak ada jalan lain selain meminta pertolongan kepada sang pencipta keindahan itu sendiri. Maka tari bergegas turun dari ranjang menuju sumber air dalam rumahnya lalu menagmbil air wudhu, sholat lail dan berdo’a. Wahai engkau sang pencipta keindahan, beri hamba petunjuk yang benar agar hamba bisa mengarahkan perasaan ini dengan benar pula. Wahai, engkau sang pencipta keindahan, jika boleh aku bertanya maka akan kutanyakan, mengapa engkau menciptakan keindahan di dalam hati ini jika keindahan itu adalah dosa. Mengapa tak engkau titip saja perasaan ini pada wanita lain, yang lebih pandai mengarahkannya. Jangan ke hamba, sebab hamba tak kuat mengambil resiko demi menuruti perasaan ini. Wahai sang pencipta keindahan, aku meminta agar secepatnya engkau hilangkan keindahan perasaan ini dan engkau gantikan dengan perasaan lain, perasaan cinta kepada ciptaanMu yang lain agar hamba lebih mengerti cara mencitaiMu.” Air matanya jatuh. Sungguh siksa rasanya, menanggung cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.

Sementara di luar sana, Dirga masih duduk seorang diri di halaman rumahnya. Masih khusyuk dalam penelusurannya tentang jejak-jejak keindahan alam. Kini, malam ini Kedua anak manusia itu telah berhasil mengetuk pintu Nirwana dengan do’a mereka masing-masing yang tujuannya cenderung sama namun berbeda. Satunya berdo’a, meminta diberi kenidahan dalam bentuk lain agar bisa lebih mengerti cara mencintai sang pencipta keindahan itu sendiri, satunya lagi berdo’a agar dengan mudah menemukan jejak-jejak keindahan pada setiap ciptaaNya. Kedua insan itu tak menyadari lagi perputaran sang waktu, masing-masing tenggelam dalam sedih dan senang.

Malam pun telah usai. Waktu subuh merangkak mendekat, keduanya pun masih khusyuk dengan do’a. Jika tak ada suara lantunan ayat-ayat suci dari corong pembesar suara masjid itu, mungkin mereka tak beranjak juga dari tempat duduk masing-masing. Dirga tersadar bahwa telah memasuki waktu subuh. Pertanda penelusurannya harus ditunda dan ia belum menemukan semuanya jejak-jejak itu, seperti keinginannya. Dan …

kau selalu saja begini, akhir-akhir ini bujang! betapa kagetnya ia saat mengetahui ibunya tengah berdiri dibelakangnya. Apa saja yang kau pikirkan akhir-akhir ini sehingga kau menjadi pemenung begini nak? Atau lebih baik ibu menikahkanmu saja, agar kau tak begini rupa?

Ah … ibu, aku hanya senang duduk di alam terbuka jika malam secerah malam tadi.

Apa yang kau pikirkan nak, apa kau merindukan ayahmu? Biarkanlah ayahmu tenang di alam sana.

Bukan apa-apa bu, aku tak sedang memikirkan ayah, mari kita ke masjid bu.

Tidak, tunggu dulu, sikapmu akhir-akhir ini membuat ibu hawatir. Kau tahu, begadang itu akan mengganggu kesehatanmu nak. Dirga tak menjawab lagi. Ia masuk mengambil perlengkapan sholat dan menarik tangan ibunya menuju masjid. Sampai di halaman masid, langkahnya terhenti. betapa kagetnya ia melihat Tari sedang mematung seorang diri dekat gerbang masjid, menengadah tenang-tenang ke ara timur.  Dirga melihat sekeliling. Belum ada yang lain. Tari seorang diri di depan masjid ini.

Dia calon istrimu nak, bisik ibunya tenang-tenang. Dirga membelalak, kaget bukan buatan, mendengar pernyataan ibunya itu.

Hus … ibu jangan mengada-ngada. Sahut Dirga setengah berbisik.

Nantilah … ibu sudah mengatur semuanya. Balas ibunya.

Kini wajah seorang muballiq tampan itu nampak merah di bawa temaram marcurry masjid. Secepat itu sikapnya kepada Tari berubah dari sedikit kesal menjadi malu. Wajahnya merah karena malu. Semakin dekat, jantungnya semakin berdetak cepat nan riang. Badannya gemetar. Sementara Tari masih terus menengadah ke arah utara, sekarang sedikit senyum.

Nak Tari, apa yang sedang diperhatikan seseubuh dan segelap ini? tegur ibu Dirga mengacarai.

Itu bu …, Tari mengarahkan telunjuknya ke atas. Maka terpanalah ke enam pasang mata itu pada seberkas cahaya merah terang yang berdiri kokoh panjang dan perlahan bias membesar menyebar.

Itulah fajar nak, kamu baru melihatnya? tanya ibu tua itu.

Iya bu.

Selama ibu sholat subuh bersama Dirga, baru kali ini Ibu melihatmu Sholat subuh di masjid nak.

Iya bu … baru kali ini. Entah apa yang memaksakan kaki ini untuk melangkah menuju masjid dan ingin benar hati ini sholat subuh berjamaah di masjid ini. Tapi bapak selalu melarang. Jadi aku dan ibuku biasanya sholat di rumah dan setelahnya langsung sambung tidur lagi. Makanya baru kali ini menyaksikan fajar bu. Tari menjelaskan sambil melirik Dirga, yang menjadi alasan kuatnya itu mengapa ia memaksa diri sholat subuh di masjid. Tak mungkinlah ia juga menjelaskan kalau semalam suntuk ia belum tidur.

Itu bukan paksaan siapa-siapa nak. Itu kata hati. coba kalau kau tak ikuti kata hatimu, mungkin sampai tua kau tak akan melihat sang fajar yang indah itu.

Iya bu … benar. Jawab Tari sekenanya.

Oh, iya … sepertinya kau punya kesukaan yang sama dengan Dirga. Kali ini Dirga manarik turun kepalanya, demi mendengarkan perkataan ibunya.

Apa itu bu?

Kalian sama-sama suka menyaksikan fajar. Kedua anak muda itu kembali mengangkat kepalanya menengadah ke timur sambil senyum. Sama-sama tak menyadari senyum satu sama lain.

Kalau begitu, silahkan lanjutkan. Ibu berwudhu dulu.

Kini kedua anak muda itu menengadah bersama memandang sang fajar.

Ternyata, Tuhan telah menjawab do’aku semalam. Subuh ini Dia telah menunjukkan satu bentuk keindahan lain. Selain yang ku kenal selama ini. Yang perempuan bercericau tanpa sadar. Kelepasan.

Ya … Tuhan juga telah menjawab do’aku semalam suntuk. Bahwa masih ada jejak keindahan lain di alam ini. Dan itu adalah fajar. Suara yang belakangan ini, juga kelepasan.

Hanya yang menyaksikan mereka berdua, yang kini berdiri tepat di tengah mereka, yang menyadari kalau kedua anak muda ini sama-sama tak tidur semalam suntuk, hanya untuk menjemput fajar. Dan berkata Sepertinya kalian berjodoh nak. Keduanya kaget mendengarkan kata Amin dari pak imam. Waktunya Sholat.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Revolusi Hijau Bukan Solusi Bagi Petani

Oleh: Alkiyat J. Dariseh

Krisis ekonomi global membawa dampak pada mahalnya input (asupan) pertanian. Namun petani sudah terlanjur tergantung pada input kimia sehingga tetap membelinya meski mahal. Padahal penggunaan input kimia memengaruhi degradasi (penurunan kualitas) kesuburan lahan. Bagaimana hal ini bisa terjdi? Lalu bagaimana kiat kita mengatasi persoalan tersebut?

* * * * * * *

Pembaca yang baik – Petani Indonesia sebenarnya tidak sekali dua kali mengarungi badai krisis. Krisis pangan yang di tandai dengan persoalan rawan pangan dan gizi buruk merupakan deretan persoalan ketidak adilan perlakuan atas petani, seperti minimnya akses petani atas tanah, air, dan input (termasuk teknologi), kredit pertanian serta distribusi hasil pertanian. Petani dikucilkan dari alamnya sendiri. Berbagai kebijakan baik di tingkat internasional, regional, bahkan lokal telah meminggirkan petani, terutama petani berlahan sempit yang dinilai tak layak secara ekonomis. Tidak sedikit kebijakan di tingkat nasional dan lokal berkontribusi dalam menyingkirkan tanaman pangan demi devisa yang lebih menggiurkan dari tanaman sumber energi nabati berskala besar, sehingga kebijakan ini pada gilirannya semakin memberi kesulitan pada petani miskin.

Pernahkah Pembaca memperhatikan keadaan desa sendiri maupun desa tetangga akhir-akhir ini? Pemandangan apa yang banyak Pembaca lihat di seputar desa? Bukankah semakin sedikit lahan pertanian yang dapat kita temukan, Pengalihan lahan pertanian menjadi lahan industri, pusat-pusat perdagangan, pertambangan, atau perumahan? Ya. Itulah kenyataan yang sesungguhnya.

Pesatnya pengembangan kota melalui kebijakan otonomi daerah (Pemekaran-pemekaran wilayah), di tambah dengan sistem pembagian warisan tanah di desa, mahalnya input dan ongkos produksi pertanian, serta meningkatnya biaya hidup, sesungguhnya telah menyumbang kepada penyusutan lahan pertanian di pedesaan. Sehingga tak mengherankan lagi jika banyak petani yang terpaksa menjual tanahnya, kemudian menjadi buruh tani, pergi ke kota atau ke luar negeri menjadi buruh di pabrik-pabrik, bekerja di sektor informal, dan sebagainya. Bukankah ini keliru? Atau sekaligus aneh? Ya. Sebab proses pengerahan modal secara besar-besaran terus berlangsung di pedesaan, terutama di sektor apa yang penulis namakan 3P (Pertanian, Perkebunan dan Pertambangan).

Mungkin Pembaca sudah mengetahui bahwa inilah yang dikatakan dengan proses kapitalisasi? Proses kapitalisasi ini merupakan upaya sistematis dan terencana yang dibungkus dengan modernisasi (pembangunan) pertanian yang pada dasarnya tidak memandirikan petani, namun lebih memperhatikan kepentingan kalangan industri (pemilik modal) melalui pemerintah yang berkuasa.

Proses kapitalisasi di sektor pertanian berlangsung melalui berbagai program di antaranya program “Revolusi Hijau” yang pada akhirnya menyebabkan: Rusaknya lingkungan akibat penggunaan bahan kimia, hilangnya benih/bibit (sebagai sumber daya genetik) lokal yang berkualitas baik, munculnya berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh makanan yang tercemar oleh residu bahan kimia, hilangnya penghargaan terhadap budaya sistem tani, langgengnya dominasi dan penindasan terhadap kaum perempuan, penghargaan kepada modal dan investasi (mesin-mesin) lebih besar dari pada tenaga manusia, dan rusaknya pranata (tatanan) sosial masyarakat di Pedesaan.

Pembaca yang baik – Gerakan Revolusi Hijau atau yang dikenal dengan pertanian modern yang dicanangkan di negara–negara berkembang pun halnya di Indonesia, dijalankan sejak rezim Orde Baru(di Indonesia: Masa kekuasaan Soeharto) berkuasa. Gerakan Revolusi Hijau sebagaimana telah umum diketahui di Indonesia, sesungguhnya tidak mampu menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara yang berswasembada pangan secara tetap dan berkelanjutan, akan tetapi hanya mampu bertahan dalam waktu lima tahun: Antara tahun 1984 –1989.

Pada dasarnya, Revolusi hijau memfokuskan diri pada empat pilar: Penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas. Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.

Biar begitu, perlu Pembaca ketahui bahwa Revolusi Hijau telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial di pedesaan. Karena ternyata Revolusi Hijau hanyalah menguntungkan petani yang memiliki tanah lebih dari setengah hektar, dan petani kaya di pedesaan, serta penyelenggara negara di tingkat pedesaan. Sebab sebelum Revolusi Hijau dilaksanakan, keadaan penguasaan dan pemilikan tanah di Indonesia sudah timpang, akibat dari gagalnya pelaksanaan Pembaruan Agraria sesuai semangat Undang-Undang Pokok Agraria No. 50 Tahun 1960, yang telah mulai dilaksanakan pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1965.

Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Namun, oleh para pendukungnya, kerusakan dipandang bukan karena Revolusi Hijau tetapi karena akses dalam penggunaan teknologi yang tidak memandang kaidah-kaidah yang sudah ditentukan. Jika itu benar, pertanyaannya apakah petani sudah diberikan penyuluhan memadai tentang kaidah-kaidah dalam penggunaan teknologi? Jawabannya: Belum. Alasannya, teknologi membutuhkan pendidikan dalam aplikasinya, dan petani pedesaan adalah penempat posisi paling bawah dari status pendidikannya. Kritik lain yang muncul adalah bahwa Revolusi Hijau tidak dapat menjangkau seluruh strata negara berkembang karena ia tidak memberi dampak nyata di negara bagian Afrika begitu pula di Indonesia.

Belum lagi  kearifan lokal yang kaya akan berbagai ragam pengetahuan manusia itu telah tersingkir oleh pertanian modern ini, sehingga hanya menyisakan satu pola pertanian. Malah penggunaan benih dan kearifan pengetahuan petani sering di cap “Primitif” oleh pegiat pertanian modern. Julukan primitif diiringi oleh promosi besar-besaran produk industri, seperti jenis padi hibrida, dan pencapaian waktu panen yang singkat. Sementara itu, petani yang mulai menerapkan pertanian alami sesungguhnya masih kesulitan melepaskan diri dari jebakan pola-pola pertanian Revolusi Hijau. Dalam menerapkan sistem pertanian alaminya, sering kali petani masih menggantungkan input produksinya kepada produk-produk pabrikan. Dengan kata lain, petani masih membeli input pertanian, bukan membuatnya sendiri sehingga praktek pertanian alami belum melahirkan kemandirian petani.

Lalu, apa kiat kita untuk mengatasi persoalan ini? Jawabannya: Pertanian alami dapat menjadi pilihan utama di masa-masa sulit seperti sekarang, di samping keinginan kita untuk menjaga kesehatan konsumen-produsen serta kelestarian lingkungan. Karena, pertanian alami sebenarnya adalah sebuah konsep pertanian yang bertumpu pada alam sekitar tanpa ada tambahan dari luar (baik dalam bentuk pupuk maupun pestisida). Pertanian alami memanfaatkan kekuatan dan kemampuan alam dalam meningkatkan kesuburan ketimbang menggunakan campur tangan manusia, menghormati hukum alam, serta menghargai hak tumbuhan dan hewan sebagai mahluk hidup.

Sekarang, pertanian alami/organik mulai menunjukkan perannya dalam mengatasi masalah rawan pangan dan  kerusakan lingkungan. Di beberapa negara miskin, terutama di negara-negara yang penduduknya mengalami rawan pangan dan tidak mampu bertani secara modern karena harus membeli bahan-bahan kimia, para petani yang melakukan pertanian alami justru mengalami peningkatan hasil. Fakta ini diungkapkan oleh Brian Halweil, peneliti senior dari Worldwatch institute. Menurutnya, di negara-negara miskin teknik pertanian alami yang menggunakan kompos, pupuk hijau, dan pengendalian hama secara alami menjadi tumpuan harapan bagi para petani untuk memacu produksi pertanian mereka, sekaligus mengurangi bencana kelaparan. Selain meningkatkan hasil, pertanian yang mulai menyebar ke seluruh dunia ini terbukti menguntungkan hidupan liar (Wildlife) di alam, memelihara kualitas air dan udara, serta menjaga ketahanan pangan kita. Jika pertanian alami kita lakukan dengan sistem yang saling menunjang, para petani, konsumen, dan lingkungan akan mendapatkan manfaat besar. Namun jika dukungan dari pemerintah, kalangan industri, dan organisasi tani terhadap pertanian alami atau pertanian organik ini kurang, hal ini malah dapat menyeret umat manusia kepada ancaman kelaparan dunia.

Berbagai cara dilakuakn orang, organisasi, pemerintah atau swasta untuk mengampanyekan pertanian alami ini. Bahkan pemerintah melalui Departemen pertaniannya sempat meluncurkan program “Go Organic 2010” bahwa Indonesia melaksanakan konsep pertanian organik dengan target mengekspor produk-produk organik pada tahun 2010. Namun hingga hari ini, kita belum bisa melihat bagaimana pertanian Indonesia mencapai cita-cita tersebut. Hal yang sangat disayangkan, ujung tombak Departemen Pertanian di tingkat kecamatan, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang berhubungan langsung dengan petani, masih belum memahami apa sebenarnya pertanian organik. Akibatnya, petani bingung. Di satu sisi, perlahan petani mulai memiliki perhatian pada pertanian organik. Namun ketika mereka mencoba menyerap pengetahuan dari penyuluh, seringkali informasi yang mereka peroleh justru bertentangan dengan nilai-nilai organik yang mereka pahami. Bahkan tidak sedikit PPL yang berperan pula sebagai penyalur bahan kimia untuk dibeli dan digunakan para petani yang didampinginya. Buruk bukan? Olehnya, mari berkampanye tentang pertanian alami, agar kelanjutan kelestarian alam dan kehidupan kita bisa terjamin dengan baik.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Revolusi Hijau Bukan Solusi Bagi Petani

poetratanjungmalomba

 

Oleh: Alkiyat J. Dariseh

Krisis ekonomi global membawa dampak pada mahalnya input (asupan) pertanian. Namun petani sudah terlanjur tergantung pada input kimia sehingga tetap membelinya meski mahal. Padahal penggunaan input kimia memengaruhi degradasi (penurunan kualitas) kesuburan lahan. Bagaimana hal ini bisa terjdi? Lalu bagaimana kiat kita mengatasi persoalan tersebut?

* * * * * * *

Pembaca yang baik – Petani Indonesia sebenarnya tidak sekali dua kali mengarungi badai krisis. Krisis pangan yang di tandai dengan persoalan rawan pangan dan gizi buruk merupakan deretan persoalan ketidak adilan perlakuan atas petani, seperti minimnya akses petani atas tanah, air, dan input (termasuk teknologi), kredit pertanian serta distribusi hasil pertanian. Petani dikucilkan dari alamnya sendiri. Berbagai kebijakan baik di tingkat internasional, regional, bahkan lokal telah meminggirkan petani, terutama petani berlahan sempit yang dinilai tak layak secara ekonomis. Tidak sedikit kebijakan di tingkat nasional dan lokal berkontribusi dalam menyingkirkan tanaman pangan demi devisa…

Lihat pos aslinya 1.122 kata lagi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Revolusi Hijau Bukan Solusi Bagi Petani

 

Oleh: Alkiyat J. Dariseh

Krisis ekonomi global membawa dampak pada mahalnya input (asupan) pertanian. Namun petani sudah terlanjur tergantung pada input kimia sehingga tetap membelinya meski mahal. Padahal penggunaan input kimia memengaruhi degradasi (penurunan kualitas) kesuburan lahan. Bagaimana hal ini bisa terjdi? Lalu bagaimana kiat kita mengatasi persoalan tersebut?

* * * * * * *

Pembaca yang baik – Petani Indonesia sebenarnya tidak sekali dua kali mengarungi badai krisis. Krisis pangan yang di tandai dengan persoalan rawan pangan dan gizi buruk merupakan deretan persoalan ketidak adilan perlakuan atas petani, seperti minimnya akses petani atas tanah, air, dan input (termasuk teknologi), kredit pertanian serta distribusi hasil pertanian. Petani dikucilkan dari alamnya sendiri. Berbagai kebijakan baik di tingkat internasional, regional, bahkan lokal telah meminggirkan petani, terutama petani berlahan sempit yang dinilai tak layak secara ekonomis. Tidak sedikit kebijakan di tingkat nasional dan lokal berkontribusi dalam menyingkirkan tanaman pangan demi devisa yang lebih menggiurkan dari tanaman sumber energi nabati berskala besar, sehingga kebijakan ini pada gilirannya semakin memberi kesulitan pada petani miskin.

Pernahkah Pembaca memperhatikan keadaan desa sendiri maupun desa tetangga akhir-akhir ini? Pemandangan apa yang banyak Pembaca lihat di seputar desa? Bukankah semakin sedikit lahan pertanian yang dapat kita temukan, Pengalihan lahan pertanian menjadi lahan industri, pusat-pusat perdagangan, pertambangan, atau perumahan? Ya. Itulah kenyataan yang sesungguhnya.

Pesatnya pengembangan kota melalui kebijakan otonomi daerah (Pemekaran-pemekaran wilayah), di tambah dengan sistem pembagian warisan tanah di desa, mahalnya input dan ongkos produksi pertanian, serta meningkatnya biaya hidup, sesungguhnya telah menyumbang kepada penyusutan lahan pertanian di pedesaan. Sehingga tak mengherankan lagi jika banyak petani yang terpaksa menjual tanahnya, kemudian menjadi buruh tani, pergi ke kota atau ke luar negeri menjadi buruh di pabrik-pabrik, bekerja di sektor informal, dan sebagainya. Bukankah ini keliru? Atau sekaligus aneh? Ya. Sebab proses pengerahan modal secara besar-besaran terus berlangsung di pedesaan, terutama di sektor apa yang penulis namakan 3P (Pertanian, Perkebunan dan Pertambangan).

Mungkin Pembaca sudah mengetahui bahwa inilah yang dikatakan dengan proses kapitalisasi? Proses kapitalisasi ini merupakan upaya sistematis dan terencana yang dibungkus dengan modernisasi (pembangunan) pertanian yang pada dasarnya tidak memandirikan petani, namun lebih memperhatikan kepentingan kalangan industri (pemilik modal) melalui pemerintah yang berkuasa.

Proses kapitalisasi di sektor pertanian berlangsung melalui berbagai program di antaranya program “Revolusi Hijau” yang pada akhirnya menyebabkan: Rusaknya lingkungan akibat penggunaan bahan kimia, hilangnya benih/bibit (sebagai sumber daya genetik) lokal yang berkualitas baik, munculnya berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh makanan yang tercemar oleh residu bahan kimia, hilangnya penghargaan terhadap budaya sistem tani, langgengnya dominasi dan penindasan terhadap kaum perempuan, penghargaan kepada modal dan investasi (mesin-mesin) lebih besar dari pada tenaga manusia, dan rusaknya pranata (tatanan) sosial masyarakat di Pedesaan.

Pembaca yang baik – Gerakan Revolusi Hijau atau yang dikenal dengan pertanian modern yang dicanangkan di negara–negara berkembang pun halnya di Indonesia, dijalankan sejak rezim Orde Baru(di Indonesia: Masa kekuasaan Soeharto) berkuasa. Gerakan Revolusi Hijau sebagaimana telah umum diketahui di Indonesia, sesungguhnya tidak mampu menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara yang berswasembada pangan secara tetap dan berkelanjutan, akan tetapi hanya mampu bertahan dalam waktu lima tahun: Antara tahun 1984 –1989.

Pada dasarnya, Revolusi hijau memfokuskan diri pada empat pilar: Penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas. Melalui penerapan teknologi non-tradisional ini, terjadi peningkatan hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu, suatu hal yang sebelumnya tidak mungkin terjadi.

Biar begitu, perlu Pembaca ketahui bahwa Revolusi Hijau telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial di pedesaan. Karena ternyata Revolusi Hijau hanyalah menguntungkan petani yang memiliki tanah lebih dari setengah hektar, dan petani kaya di pedesaan, serta penyelenggara negara di tingkat pedesaan. Sebab sebelum Revolusi Hijau dilaksanakan, keadaan penguasaan dan pemilikan tanah di Indonesia sudah timpang, akibat dari gagalnya pelaksanaan Pembaruan Agraria sesuai semangat Undang-Undang Pokok Agraria No. 50 Tahun 1960, yang telah mulai dilaksanakan pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1965.

Revolusi hijau mendapat kritik sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan kelestarian lingkungan karena mengakibatkan kerusakan lingkungan yang parah. Namun, oleh para pendukungnya, kerusakan dipandang bukan karena Revolusi Hijau tetapi karena akses dalam penggunaan teknologi yang tidak memandang kaidah-kaidah yang sudah ditentukan. Jika itu benar, pertanyaannya apakah petani sudah diberikan penyuluhan memadai tentang kaidah-kaidah dalam penggunaan teknologi? Jawabannya: Belum. Alasannya, teknologi membutuhkan pendidikan dalam aplikasinya, dan petani pedesaan adalah penempat posisi paling bawah dari status pendidikannya. Kritik lain yang muncul adalah bahwa Revolusi Hijau tidak dapat menjangkau seluruh strata negara berkembang karena ia tidak memberi dampak nyata di negara bagian Afrika begitu pula di Indonesia.

Belum lagi  kearifan lokal yang kaya akan berbagai ragam pengetahuan manusia itu telah tersingkir oleh pertanian modern ini, sehingga hanya menyisakan satu pola pertanian. Malah penggunaan benih dan kearifan pengetahuan petani sering di cap “Primitif” oleh pegiat pertanian modern. Julukan primitif diiringi oleh promosi besar-besaran produk industri, seperti jenis padi hibrida, dan pencapaian waktu panen yang singkat. Sementara itu, petani yang mulai menerapkan pertanian alami sesungguhnya masih kesulitan melepaskan diri dari jebakan pola-pola pertanian Revolusi Hijau. Dalam menerapkan sistem pertanian alaminya, sering kali petani masih menggantungkan input produksinya kepada produk-produk pabrikan. Dengan kata lain, petani masih membeli input pertanian, bukan membuatnya sendiri sehingga praktek pertanian alami belum melahirkan kemandirian petani.

Lalu, apa kiat kita untuk mengatasi persoalan ini? Jawabannya: Pertanian alami dapat menjadi pilihan utama di masa-masa sulit seperti sekarang, di samping keinginan kita untuk menjaga kesehatan konsumen-produsen serta kelestarian lingkungan. Karena, pertanian alami sebenarnya adalah sebuah konsep pertanian yang bertumpu pada alam sekitar tanpa ada tambahan dari luar (baik dalam bentuk pupuk maupun pestisida). Pertanian alami memanfaatkan kekuatan dan kemampuan alam dalam meningkatkan kesuburan ketimbang menggunakan campur tangan manusia, menghormati hukum alam, serta menghargai hak tumbuhan dan hewan sebagai mahluk hidup.

Sekarang, pertanian alami/organik mulai menunjukkan perannya dalam mengatasi masalah rawan pangan dan  kerusakan lingkungan. Di beberapa negara miskin, terutama di negara-negara yang penduduknya mengalami rawan pangan dan tidak mampu bertani secara modern karena harus membeli bahan-bahan kimia, para petani yang melakukan pertanian alami justru mengalami peningkatan hasil. Fakta ini diungkapkan oleh Brian Halweil, peneliti senior dari Worldwatch institute. Menurutnya, di negara-negara miskin teknik pertanian alami yang menggunakan kompos, pupuk hijau, dan pengendalian hama secara alami menjadi tumpuan harapan bagi para petani untuk memacu produksi pertanian mereka, sekaligus mengurangi bencana kelaparan. Selain meningkatkan hasil, pertanian yang mulai menyebar ke seluruh dunia ini terbukti menguntungkan hidupan liar (Wildlife) di alam, memelihara kualitas air dan udara, serta menjaga ketahanan pangan kita. Jika pertanian alami kita lakukan dengan sistem yang saling menunjang, para petani, konsumen, dan lingkungan akan mendapatkan manfaat besar. Namun jika dukungan dari pemerintah, kalangan industri, dan organisasi tani terhadap pertanian alami atau pertanian organik ini kurang, hal ini malah dapat menyeret umat manusia kepada ancaman kelaparan dunia.

Berbagai cara dilakuakn orang, organisasi, pemerintah atau swasta untuk mengampanyekan pertanian alami ini. Bahkan pemerintah melalui Departemen pertaniannya sempat meluncurkan program “Go Organic 2010” bahwa Indonesia melaksanakan konsep pertanian organik dengan target mengekspor produk-produk organik pada tahun 2010. Namun hingga hari ini, kita belum bisa melihat bagaimana pertanian Indonesia mencapai cita-cita tersebut. Hal yang sangat disayangkan, ujung tombak Departemen Pertanian di tingkat kecamatan, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang berhubungan langsung dengan petani, masih belum memahami apa sebenarnya pertanian organik. Akibatnya, petani bingung. Di satu sisi, perlahan petani mulai memiliki perhatian pada pertanian organik. Namun ketika mereka mencoba menyerap pengetahuan dari penyuluh, seringkali informasi yang mereka peroleh justru bertentangan dengan nilai-nilai organik yang mereka pahami. Bahkan tidak sedikit PPL yang berperan pula sebagai penyalur bahan kimia untuk dibeli dan digunakan para petani yang didampinginya. Buruk bukan? Olehnya, mari berkampanye tentang pertanian alami, agar kelanjutan kelestarian alam dan kehidupan kita bisa terjamin dengan baik.

 

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Menurut Anda?

Oleh: Alkiyat J. Dariseh

*******

Kira-kira setengah dua belas malam. Sambil chatingan dengan dua teman se jurusan (Agribisnis UNTAD) mengenai insiden tadi siang (Jumat, 15 November 2013) yang menimpa seorang teman kami, yang juga sejurusan, sehingga membuat ruangan ICU RSU UNDATA Palu, full seketika.GambarYang bagian mananya luka dan di operasi, belum saya ketahui karena chatingan putus di dera rasa lapar yang se enaknya menguyak-nguyak usus saya. Dengan kondisi seperti itu, apapun alasannya, apapun urusannya, seberapa penting pun kesibukannya, pastilah tak akan tertolerir. Urusan perut. Urusan kampung tengah. Urusan hidup dan mati. Jadi harap maklum.

Memutuskan untuk jajan di warung makan termurah di kota palu, adalah solusinya. Hehe… Pikir punya pikir, ternyata, eh.. sudah di depan Mas Joko (warung makan yang cukup popular bagi kaum perantau) tek terkecuali yang kepepet lapar.

Ada satu kesaksian yang sangat menarik di warung itu. Lantunan suara yang menurut persi saya lumayan merdu, mengalir renyah dari pita suara ketiga pemuda yang enggan saya menyebutnya pengamen. Namun begitulah definisi yang umum diberikan kepada orang-orang seperti mereka. Bahkan mereka sekalipun.

Progresif saya berfikir, saya harus beli rokok (Nuu Mild): yang pertama untuk persediaan habis makan, yang kedua sebagai sarana untuk berkenalan dengan ketiga pelantun suara merdu yang sedang menunjukkan raut penuh harap itu. Entah apa yang ada dalam kepala saya. Melihat ketiga pemuda itu, menilai mereka, menilai orang-orang lain  yang sedang lahap namun terkesan cuek dengan keadaan, ada juga yang resah menunggu pesanan, ada lagi yang resah, mungkin saja merasa terganggu dengan aktifitas ketiga pelantun lagu itu. Tapi saya tetap lebih fokus ke ketiga pelantun lagu itu. Bukan karena mereka yang lebih mendominasi ruangan warung yang kira-kira berukuran 7 x 4 itu dengan suara mereka, namun karena sikap yang mungkin sudah ditakdirkan untuk saya, selalu memiliki rasa hormat kepada orang-orang yang mau berusaha dengan kapasitas yang mereka miliki.  Jadi ini semacam bukan iba, bukan juga empati, mungkin yang lebih pas simpatik.

Saya selalu senang dengan orang-orang yang mau berkarya, atau lebih pas mau membesakan dirinya dalam berbuat. Sikap itu yang mendorong saya untuk menyodorkan Rupiah: sepuluh ribu, dan tiga batang Nuu Mild, lalu lima jari tangan kanan sebagai simbol perkenalan ala manusia zaman sekarang. Sialnya ketiga nama pemuda itu saya lupa dengan sekejab. Entah hanya sekedar embel-embel untuk berkenalan nama. Yang pasti, itu memang hanya embel-embel saya doank. Sebab tujuan saya hanya ingin mengapresiasikan rasa simpatik saya ke mereka. Dengan begitu saya akan lega. Lega untuk sebuah ekspresai menghargai diri sendiri.

Agak lebai jika itu disebut karya. Namun itulah kenyataan yang ada dalam kepala saya, bahwa benar, mereka berkarya. Dan berkarya menurutku adalah sebuah perjuangan. Perjuangan melawan malu di depan umum sebab, pasti akan di anggap apalah. itu yang menjadi hal dasar saya untuk bersimpatik kepada ketiganya.

Lagu-lagu yang di persembahkan juga sangat popular, kendatipun ada lagu yang belum sempat saya dengar. Namun, sejak makanan di suguhkan si tuan warung, sampai semuanya habis saya lahap, begitu juga dengan teman saya disamping, semua proses saya rekam sedemikian rupa. Hingga menghasilkan cerita baru malam ini. cerita yang sedang anda baca.  Yang menurut saya, sejak dari perbincangan di chatingan; inisiatif untuk cari warung termurah (demi menunaikan perintah usus); sampai pada perkenalan dengan ketiga pelantun suara merdu itu: Bahwa hidup ini memang benar-benar perjuangan. Berkelahi, perjuangan; Urusan perut, Perjuangan; menyanyi, Perjuangan; cuek dengan keadaan sekitar, perjuangan. Yang semua itu sangat memerlukan keahlian dalam memainkannya. Maka hasil rekaman kepala saya sementara: Hidup adalah sandiwara yang butuh perjuangan.

Berusaha untuk kenal kepada ketiga pemuda pelantun suara merdu, adalah ekspresi perjuangan demi menghargai diri saya sendiri, meski tak terpungkiri terkesan bersandiwara saat berkenalan.

Dalam keadaan seperti itu, Bagitulah kesimpulan sementara yang dapat saya petik. Menurut anda?

Larut malam,

Sabtu, 16 November 2013 (Lor. Canggih)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Catatan Hasil Seminar Sehari: Dampak Perkebunan Kelapa Sawit

Oleh: Alkiyat J. Dariseh

*******

Sabtu, 9 November 2013 – Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Dondo (IPPMD)-Palu, melaksanakan kegiatan seminar sehari dengan tema: “Mengenali dampak perkebunan kelapa sawit: Solusi atau bencana?” kegiatan ini dilaksanakan di gedung balai desa, Desa Tinabogan Kecamatan Dondo Kabupaten Tolitoli, dengan pertimbangan desa tinabogan merupakan Ibu Kota 538004_226465067514614_1168655352_nkecamatan, yang berarti merupakan titik strategis dalam menghadirkan seluruh masyarakat se Kecamatan Dondo pada kegiatan tersebut.

IPPMD mengangkat tema di atas dengan dasar pemikiran: Bahwa perlu adanya informasi penyeimbang yang harus diasupkan ke masyarakat Dondo terkait kebijakan pemerintah Kabupaten Tolitoli dalam usaha memasukkan investasi perusahaan kelapa sawit di Kecamatan Dondo. Alasannya, secara kasat indra IPPMD, bahwa kelapa sawit merupakan “Hal baru” bagi masyarakat Dondo, sementara informasi yang mereka dapatkan hanya sebatas infomasi positif  “menjanjikan kesejahteraan – katanya,”  yang itu pun mereka dapatkan hanya melalui sosialisasi perusahaan yang sudah dilakukan di dua desa yakni: desa Ogowele dan desa Anggasan. Artinya, informasi yang masuk di masyarakat adalah informasi sepihak yang sama sekali tidak mempertimbangkan dampak negative yang di timbulkan oleh perkebunan kelapa sawit. Sementara tak ada satupun perusahaan yang tidak mengutamakan keuntungan, maka merupakan hal wajar bagi perusahaan jika hanya memberikan informasi yang bersifat “Surga Telinga.” Lewat dasar pemikiran inilah IPPMD yang merupakan organisasi kepemudaan, kepelajaran dan kemahasiswaan, mengambil peran sebagai fasilitator di tengah-tengah masyarakat dalam mengasupkan informasi penyeimbang seputar dampak positif dan dampak negative yang ditimbulkan oleh perkebunan kelapa sawit dan perusahaannya.

Dengan menghadirkan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli dalam hal ini, Dinas Perkebunan yang diwakili oleh bapak Eko Yuliantoro (Kabid. Pembenihan dan Produksi)  dan pihak DPRD Kabupaten Tolitoli yang diwakili oleh Ibu Irmawati, serta menghadirkan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Tengah, Ahmad Pelor, SH; Masing-masing sebagai narasumber.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Camat Dondo, Urip Halim, Spd., dan dihadiri oleh masyarakat dari kalangan petani dan nelayan, hampir semua kepala-kepala desa se Kecamatan Dondo, Kapolsek Dondo, Pembina IPPMD-Palu, anggota IPPMD-Palu, Anggota IPPMD-Tolitoli, serta Siswa Siswi Sekolah Menengah Atas (SMA N 1 Dondo), dengan prosentase peserta kurang lebih 100 orang.

Kegiatan yang di awali dengan pembukaan, kemudian session prosentase masing-masing narasumber, dan dilanjutkan dengan session tanya jawab,  yang di pimpin langsung oleh moderator (Ramadhani: Anggota IPPMD-Palu) ini, berlangsung sesuai keinginan meski di tengah jalannya diskusi, suasana sedikit memanas. Hal ini disebabkan oleh beberapa perbedaan pandangan antara masyarakat dengan pemerintah Kecamatan dalam hal menilai dampak perkebunan kelapa sawit.

Dengan suasana diskusi yang sedikit memanas, nampak jelas, bahwa pemerintah kecamatan sangat menyetujui keputusan Bupati Tolitoli dalam usaha memasukan investasi perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Dondo. “Perkebunan kelapa sawit, merupakan solusi bagi masyarakat Dondo, apalagi jika berbicara mengenai peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di yakini bahwa, dengan masuknya perusahaan kelapa sawit, Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dondo khususnya dan Kabupaten Tolitoli umumnya, akan meningkat drastis. Apalagi perkebunan kelapa sawit membutuhkan kurang lebih 3000 tenaga kerja, ini akan sangat membantu program Negara dalam mengurangi angka pengangguran.” Papar Kepala Desa Bambapun, yang kalimat itu sudah diutarakan Camat Dondo saat memberikan sambutan sebelumnya.

 

Namun, masyarakat yang merasa terhantui dengan dampak-dampak kelapa sawit yang telah dijelaskan Direktur WALHI-Sulteng secara detail, terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan kritis. Ditambah dengan lontaran pertanyaan dari Moh. Taufik (Sekretaris Umum IPPMD-Palu) mengenai Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang belum di kantongi perusahaan namun sudah di izinkan oleh PEMDA Kabupaten untuk melakukan penanaman di Kecamatan Dampal Utara tepatnya di desa Ogotua. PT. Bukit Berlian Persada (Cabang Perushaan dari PT. Sonokeling Buana) yang sejak tanggal 29 Agustus 2013 mendapat izin dari Bupati untuk mengelolah lahan seluas 18.250 Ha, di tiga kecamatan yakni: Dondo, Dampal Utara dan Dampal Selatan itu, sudah memulai tahap penanaman. Jelas Moh. Taufik. Situasi forum pun semakin memanas.

Seminar yang dimulai sejak pukul 08.30 Wita dan berakhir di pukul 14.30 Wita itu, akhirnya menghasilkan beberapa rekomendasi baik di internal Organisasi IPPMD yakni: Perlu adanya kegiatan lanjutan sebagai upaya untuk mencarikan solusi yang tepat bagi masyarakat dengan kondisi yang di nilai masih dilematis dalam mengambil keputusan, apakah menerima atau menolak perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Dondo; Rekomendasi ke pihak DPRD: Pihak DPRD harus melakukan pengontrolan secara kontinyu terhadap kebijakan-kebijakan yang di keluarkan Bupati, khususnya kebijakan terkait Perkebunan Kelapa Sawit dan tidak boleh lengah dalam hal ini; Rekomendasi ke Pihak Dinas Perkebunan: Bahwa secepatnya melakukan Uji kelayakan melalui studi Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) mengenai perkebunan kelapa sawit; Rekomendasi ke pihak WALHI: Harus terus melakukan aksi-aksi lapangan dalam hal mengawal setiap baik kebijakan pemerintah maupun mengawal masyarakat dalam mencari solusi terbaik, agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Adapun hasil-hasil yang diinginkan dalam kegiatan seminar tersebut adalah, bagaimana masyarakat mampu membuat hitung-hitungan sistematis dalam setiap pengambilan keputusan dan tidak serta merta menerima perusahaan kelapa sawit masuk di Kecamatan Dondo, dengan informasi-informasi yang telah di dapatkan dalam forum seminar tersebut mengenai dampak negative yang di timbulkan perkebunan kelapa sawit. Hal ini merupakan antisipasi agar nantinya tidak melahirkn penyesalan di kemudian hari.

Sebab, jauh sebelum rencana pemerintah Kabupaten memasukkan investasi Perkebunan Kelapa sawit di Kecamatan Dondo, IPPMD sudah lebih dulu mendiskusikan seputar dampak-dampak yang ditimbulkan perkebenan kelapa sawit. Jelasnya, perkebunan kelapa sawit bukan merupakan solusi terbaik dalam meningkatkan Perekonomian Desa. Justeru kelapa sawit berdampak buruk di segala bidang: baik perekonomian masyarakat, sosial budaya, terlebih pada lingkungan tempat masyarakat bergantung hidup.

Di internal Organisasi, IPPMD menilai kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat baik dari segi ilmu pengetahuan, maupun dari segi kontribusi sebagai generasi penerus di tengah-tengah masyarakat Dondo.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Suku Lauje atau ‘Bela?’

Oleh : Alkiyat J. Dariseh

*******

Catatan singkat ini, bermaksud menyajikan deskripsi yang berlatar etnografi yang dikembangkan dari beberapa kasus dan pengalaman langsung saat berinteraksi di lingkungan masyarakat suku lauje. Catatan ini pula saya dedikasikan khusus untuk masyarakat lauje atas (yang bermukim di dataran tinggi/pegunungan). Dalam catatan singkat ini, ada satu hal penting yang perlu kita ketahui bersama, yakni kekeliruan dalam memaknai suku kata ‘bela’ oleh suku LGambarauje itu sendiri.

Suku Lauje, merupakan salah satu dari suku yang ada di Propinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di Kabupaten Parigi Moutong. Meski dari sebagian mereka ada juga yang tinggal di wilayah administrasi Kabupaten Tolitoli, karena kedua kabupaten ini hanya berbatasan dengan gunung. Secara geografis, suku Lauje terbagi dalam dua kelompok; ada kelompok yang bermukim di dataran tinggi (pegunungan), ada juga kelompok yang bermukim di dataran rendah. Kedua kelompok ini sama-sama suku lauje. Namun, dalam catatan ini saya akan menyajikan satu masalah yang lahir dari satu suku kata, yakni ‘bela.’ Yang menurut saya kata ini sarat akan tendensius, yang mengarah pada peng-isolasian salah satu kelompok dari keduanya yang di sebabkan oleh kekeliruan dalam memaknainya.

Ada hal yang menarik yang sempat saya saksikan langsung dari beberapa perbincangan singkat antara kelompok lauje atas (yang bermukim di pegunungan) dengan kelompok lauje bawah (yang bermukim di dataran rendah) yakni, pemaknaan yang berbeda pada suku kata ‘bela’ oleh masing-masing kelompok ini.

‘Bela,’ adalah salah satu suku kata dari bahasa Lauje, yang pemaknaannya perlu diluruskan menurut saya. Sebab, baik kelompok Lauje atas maupun kelompok Lauje bawah, kata ‘bela’ sering mereka gunakan dalam bersosialisasi baik sesamanya maupun lintas suku.  Sayangnya pemaknaan dari kata ‘bela’ oleh kedua kelompok tersebut, masing-masing berbeda.

Oleh kelompok Lauje bawah, kata ‘bela’ mereka tujukan khusus untuk kelompok Lauje atas,  namun dengan tendensi dasar, bahwa kata ‘bela’ memuat kesan (awam). Awam bukan saja dalam artian belum dijamah oleh sistem informasi terkini, namun awam dalam artian, kelompok yang serba kekurangan. Pemaknaan ini yang menurut saya sangat keliru, bahkan seakan-akan menjadi simbol keterpurukan, karena dengan sendirinya melahirkan stigma; bahwa kelompok Lauje atas adalah kelompok-kelompok yang tersisihkan dari arus peradaban dunia. Maka tidak heran mereka, kelompok Lauje atas, sampai saat ini masih terkesan canggung dalam berinterkasi baik dengan kelompok lauje bawah maupun non lauje. Bukankah ini stigma yang jelas-jelas mengisolir pola interaksai mereka? Padahal, jika kelompok lauje bawah sedikit bersikap bijak, tentunya akan lebih sadar bahwa mereka pun pernah mendapatkan sapaan ‘bela’ saat berkomunikasi dengan kelompok lauje atas. Saya sendiri pun pernah mendapatkan sapaan itu.

berbeda dengan kelompok lauje atas, dimana peletakan makna kata ‘bela’  bagi kelompok lauje atas cukup memuat makna yang positif. ‘Bela’ menurut mereka, adalah saudara atau teman. Sebab, kasus ini sering saya temukan langsung saat dimana kedua kelompok ini tengah asik berinteraksi dengan menggunakan komunikasi bahasa suku mereka (Suku lauje). Dimana jika kedua kelompok tersebut sedang berkomunikasi, maka tidak sedikit dari perbincangan itu terlontar kata ‘bela’ antar mereka. Nah menurut saya, kata ‘bela’ tidak ada bedanya dengan saudara, teman/pland, bung, boy, bro, guys, atau sapaan akrab lainnya yang berfungsi meng-konekkan antar objek yang tengah berkomunikasi. Tinggal tergantung pada siapa yang menyapa dan siapa yang disapa. Tentu anda faham apa yang saya maksud.

Oke guys, pemaknaan ini yang perlu diluruskan menurut saya. Kan tidak adil jika kata ‘bela’ menurut kelompok lauje atas adalah saudara, teman atau sebagainya, namun menurut kelompok lauje bawah, kata ‘bela’ adalah mereka ‘orang-orang awam’ yang seakan terjustis dengan paksa sebagai kelompok yang terpuruk. Padahal yang membedakan kelompok ini hanyalah letak geografis, ada yang tinggal di dataran tinggi sehingga sistem informasi agak sulit menjangkau keberadaan mereka, dan ada yang tinggal di dataran rendah sehingga agak mudah mendapatkan informasi, lalu dengan sedikit congkak menganggap diri lebih tinggi dari mereka (kelompok lauje atas) dan dengan tega mengisolir mereka hanya dengan satu kata ‘Bela’ yang mengandung makna seribu keterpurukan itu.

Memang, saya mengakui bahwa ada juga di antara kelompok lauje bawah yang cukup menyadari hal ini, yang tidak dengan semena-mena menggunakan kata ‘bela’ sebagai simbol keterpurukan bagi kelompok lauje atas. Namun, tidak sedikit dari mereka yang sudah semena-mena, bahkan se enak perutnya menggunakan kata ‘bela’ sebagai simbol keterpurukan bagi kelompok lauje atas. 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar